Trip Asia Tenggara/Bandung-Bangkok-Pattaya-Laos-Vietnam

By lrdailyroutine - August 06, 2019



TRIP HALAL ASIA TENGGARA 
Bandung - Bangkok - Pattaya - Laos - Vietnam


Assalamualaikum semua.......
Kali ini saya sedikit akan cerita mengenai jejak travel saya. Jejak travel kali ini mengenai jejak saya di beberapa negara Asia Tenggara tahun 2014. 

Sedikit cerita mengenai negara-negara di Asia Tenggara, hanya beberapa dari negara di Asia Tenggara yang menjadi tempat persinggahan pedagang-pedagang Islam dahulu kala. Tom pires mencatat  di bukunya "The Suma Oriental of Tom Pires" bahwa perjalanan perdagangan Islam menyebar dari Malaka ke Cina, Cina ke Maluku, Maluku ke Jawa, dan dari Jawa kembali ke Malaka. Kemudian, saat angin di Laut Cina Selatan bertiup ke utara di setiap bulan Juni hingga Agustus, para pedagang pun berlayar ke Ayuthia, Muangthai (saat ini Thailand), Cina, Selain di Kepulauan Indonesia, Islam pun menyebar lewat jalur perdagangan ke beberapa negara Asia Tenggara. Islam memantapkan diri di Brunei Darussalam. Filipina, termasuk Sabah, Sarawak (sekarang milik Malaysia), serta Sulu dan Luzon (Filipina). Hal ini yang menyebabkan beberapa negara yang saya kunjungi tersebut tidak begitu nyaman untuk ditinggali oleh muslim. Bukan hanya tidak jelas kehalalan makanannya, hal lain seperti berkeliarannya babi dengan bebas juga membuat ketidaknyamanan negara-negara tersebut bagi pendatang muslim. Tetapi karena Travel is never end, ya bantelah situ. hehehehe....

Lets start......

Perjalanan dimulai dari Bandung
Awalnya, saya dan teman-teman yang lainnya dari indonesia ingin berkunjung ke tempat tinggal teman kami satu kelas semasa menjadi mahasiswa di ITB (Institut Teknologi Bandung) di Laos kala itu tetapi akhirnya kami menjelajahi beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Teman kami tersebut kebetulan berkebangsaan Laos. Dia adalah satu dari sekian banyak WNA (warga Negara Asing) yang beruntung mendapat beasiswa untuk tinggal dan belajar di Indonesia. Namanya Souphaline Soulyavong, aka. (as known as) Li Ko. Ko nama panggilan kami padanya. Dia anak perempuan berparas oriental yang tak sengaja kami jumpai saat perkenalan kampus kala itu. Ko sudah seperti saudara kandung buat saya karena selama di Bandung, bukan hanya karena seangkatan semasa kuliah pascasarjana kala itu, kami juga serumah saat in the kos di Bandung.  Di lain waktu saya akan cerita lebih mengenai masa-masa saya berkuliah di ITB InsyaAllah. 

1. Thailand

Keberangkatan kami waktu itu dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Don Mueng, Bangkok, Thailand. Dari bandara ini kami naik bus bandara ke terminal bus Mo Chit menuju Pattaya. Terminal ini berlokasi di Kamphaeng Phet 2 Rd, Khwaeng Chatuchak, Khet Chatuchak, Krung Thep Maha Nakhon 10900, Thailan. Untuk jadwal keberangkatan bus dari Mo chit, Bangkok ke Pattaya sudah ada sejak pagi sekitar pukul 05.00 hingga pukul 22.00 waktu Bangkok. Tak perlu khawatir, keberangkatan bus dilakukan setiap 30 menit sekali. Begitu pula sebaliknya dari Pattaya ke Bangkok. Tarif bus dari Bangkok ke Pattaya maupun sebaliknya dikenakan sebesar 150 baht atau sekitar Rp 66.000. 


Sesampainya di terminal bus Pattaya kami menaiki angkutan umum untuk sampai ke penginapan. Di sana ada sebuah angkutan nampak seperti mobil bak yang atapnya ditutupi oleh rangkaian besi. Penginapan yang kami pesan kala itu berada dekat sekali di pinggiran pantai Jomtien aka. pantai pattaya. Segera setelah kami sampai di penginapan kami segera mandi untuk berkeliling di pattaya. 



Awalnya kami ke Pattaya saisong Rd, Muang Pattaya, Amphoe Bang Lamung, Chang Wat Chon Buri 20150, Thailan menuju teater untuk menyaksikan Tiffany Show. Karena awalnya saya tidak tau tiffany show itu pertunjukan apa, jadi saya setuju untuk mendatangi tempat itu. Setelah saya mengetahui pertunjukan tsb adalah pertunjukan para waria berbaju sexy di thailand, saya amat sangat bersyukur karena kami tidak bisa masuk menyaksikan pertunjukannya dikarenakan penjualan tiket saat kami datang sudah ditutup. Karena tidak jadi menyaksikan pertunjukkan Tiffany Show, kami berkeliling di sekitaran lokasi tersebut. Saya baru tahu kalau yang kami kelilingi itu adalah lokasi yang dikenal dengan naman "The Walking Street Pattaya". Kebetulan ada thailand night market juga di sana. Malam itu kami memilih makan di India Vegan Restaurant. Sewaktu mencicipi makanan di sana, rasa yang disajikan di restoran tersebut sangat amat kental akan bumbu khas India. Saya tidak begitu menyukai rasa bumbu yang tajam. Tetapi karena takut dengan kehalalan makanan disekitar lokasi tersebut, saya memilih untuk memakan dan mencoba menikmati makanan tersebut.





Setelah lelah berkeliling dan malampun sudah larut, kami kembali ke penginapan. Sesaat setelah sampai di penginapan kami tersadar kalau kami belum bermain-main di pantai pattaya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari penginapan kami. Jadi kami menyempatkan untuk kembali ke pantai tersebut. Kami menginap 1 malam di pattaya sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke bangkok. 


Sebelum kami kembali ke bangkok pagi itu kami keluar dari penginapan dan pergi ke mini siam. Dari North Pattaya Road, bisa naik songthaew sampai Bundaran Dolphin (10 Baht). Bundaran ini adalah tempat ngetemnya songthaew. Songthaew adalah angkutan umum yang khas di pattaya. Begitu penumpang penuh baru berangkat. Turun di ujung jalan yang ada lampu merah (patokannya setelah terminal bus Pattaya sekitar 100 meter, ongkos 10 Baht). Dari lampu merah ini, ambil jalan ke kiri dan tunggu songhtaew lagi dan bayar 10 Baht. Nah, Mini Siam kurang lebih 1 Km dari lampu merah dan berada di sebelah kanan (patokannya sebelah kiri ada rumah sakit Pattaya). Jadi, Mini Siam itu lokasinya di seberang rumah sakit Pattaya itu. Tiket masuk Mini Siam 300 Baht. Operasional dari pukul 07.00 hingga 20.00 waktu thailand. Mini Siam merupakan miniatur bangunan yang ada di dunia seperti menara Eiffel, Patung Liberty, Kincir Angin Belanda dan sebagainya. Sejumlah tempat lain yang menarik di pattaya yang tak sempat kami kunjungi adalah Noong Nooch Village, Laser Budha, dan Pattaya Floating Market.


Perjalanan di pattaya selesai setelah kami mengunjungi mini siam. Untuk meninggalkan pattaya kami memilih menaiki bus di terminal pattaya menuju bangkok. Setelah sampai di bangkok, kami menuju ke guesthouse di bangkok. Kami memilih Fun Wan Hotel saat itu. Fun Wan Hotel Bangkok berada di Khwaeng Khlong Toei Nuea, Khet Watthana, Krung Thep Maha Nakhon 10110, Thailand. Lokasinya yang dekat dengan Stasiun Nana (BTS Sukhumvit Line), tepatnya di 23/6 Sukhumvit Soi 11. Nana merupakan salah satu kawasan bisnis di Bangkok yang diisi dengan pusat-pusat perbelanjaan, pusat kuliner, dan tempat-tempat nongkrong. Teman-teman yang lain memilih untuk berkeliling thailand sebelum keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan kami ke tujuan awal kami yaitu Laos.  

2. Laos

Akhirnya sampai di hari kami berangkat ke Laos. Kami memilih moda transportasi kereta api untuk pergi ke Laos dari Bangkok. Dari penginapan kami memilih menggunakan taksi untuk pergi ke stasiun kereta api Hua Lamphong Train Station di Bangkok. Sebenarnya lebih mudah menggunakan MRT untuk menuju ke loakasi ini. Nama MRT (subway)dan MRT-Station nya sama.


Kereta menuju Laos (Nong Khai Train Station) dari Bangkok berangkat dari Stasiun Hua Lamphong dapat ditempuh dengan waktu tempuh kurang lebih 10 jam. Harga tiket berkisar Rp. 75.000 saat itu untuk kelas ekonomi. Berikut penampakan gerbong di night train tersebut. 



Sampailah kami di Laos pagi hari karena kami berangkat malam dari Bangkok. Di Stasiun Nong Khai Laos, kami disambut oleh keluarga Li Ko dengan kalungan bunga khas Laos (bunganya mirip bunga taik ayam kalau di medan, hahhaa). Ternyata kegiatan tersebut memang sudah tradisi di sana. Begitu mulia tamu di mata orang laos. Bukan hanya kalungan bung, sesampainya di rumah Li Ko kami juga disugungi tradisi tabur bunga dan pemberian gelang benang (kalau di khas mandailing seperti upah-upah, bedanya kalau diupah-upah disuguhi makanan kalau disana disuguhi taburan bunga, hahahha). 


Pagi sampai siang, kami berdiam untuk istirahat sejenak di rumah Li Ko. Setelah badan kami relaks dan tidak lelah, siang itu pun kami keliling Laos (vientien). Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Budha Park. Di tempat ini seperti taman yang hanya dipenuhi padang rumput hijau dan juga terdapat patung-patung Budha. Li Ko menjelaskan bahwa setiap hari dan waktu, budha mempunyai rupa yang berbeda-beda. 





Setelah selesai mengeplorasi Budha Park, kami pun bergerak menuju Pa That Luang. Pa that luang dalah sebuacandi Buddha besar yang dilapisi emas. Candi ini terletak di pusat kota VientianeLaos. Pha That Luang dianggap sebagai monumen nasional yang terpenting dan sebagai simbol nasional di Laos. 



Kami bergerak ke destinasi selanjutnya di pusat kota Vientine, Laos. Terdapat gerbang kemenangan di jantung kota Vientine yang disebut dengan Patuxai. Gerbang ini sengaja dibuat mirip arc de troamph di perancis untuk mengenang kemerdekaan Laos atas jajahan Perancis waktu dulu. Di sepanjang kawasan ini terdapat kolam kecil. Di ujung di sekitaran kawasan gerbang patuxai terdapat gong perdamaian (World Peace Gong).







Kami juga berkunjung di Vientine Night Market. Di sana banyak terdapat banyak jajaran dagangan barang-barang khas Laos. Setelah kelelahan seharian menyususri kota Vientine, kami pun pulang ke kediaman Li Ko dan beristirahat disana. Keesokan harinya kami pun bergegas dari Laos menuju Vietnam via jalan darat dengan menggunakan mobil saudaranya Li Ko yang kebetulan berkebangsaan Vietnam. Sebelum pergi pagi itu imey-nya Li Ko (panggilan khas untuk ibu disana) menyediakan makanan khas laos pada kami. Rebung yang direbus dengan sop ikan dan nasi ketan putih (sticky rice) telah berjejer di meja makan. Awalnya ketika ibu Li Ko memasak di pagi buta saya terbangun untuk solat subuh. Nah, setelah solat saya ke dapur dan menanyakan ke Li Ko bagaimana mereka memasak dan menanyai mengenai alat dapur yang mereka gunakan. Saya merasa penting bagi saya menanyakan hal tersebut karena Li Ko bukanlah seorang muslim. Dia tahu dan mengerti tentang kekhawatiran saya itu sambil mengatakan "Calm down lance, all stuff that imey used is new". I've told imey before about this and all this eating set and kitchen set like bowl etc that we will using today, are new dear lance" (Tenang lance, semua barang-barang ini baru. Aku sudah pernah bilang ke ibu sebelumnya tentang hal ini dan semua alat makan dan alat dapur yang kita gunakan semuanya adalah baru sayang). Alhamdulillah kalau Li Ko mengerti tentang hal ini. 

Sebenarnya jauh sebelum saya memutuskan untuk meng-iya kan ajakannya untuk berkunjung kerumahnya di Laos, saya sudah membicarakan tentang hal ini ke Li ko. Awalnya saya menolak ajakannya tersebut dikarenakan saya paling tidak mau merepotkan orang lain. Tetapi karena Li Ko sangat getol mengajak saya untuk ke rumahnya dan menyetujui semua kondisi yang saya utarakan untuk menyesuaikan kondisi saya sebagai muslim saat saya di rumahnya, akhirnya saya meng-iyakan ajakannya tersebut. 

Pagi itu setelah kami selesai sarapan, kami pun bergerak meninggalkan kediaman Li Ko bersama dengan Ibu, Bapak, Adik dan Saudara-nya Li Ko juga bersama teman-teman saya dari Indonesia lainnya untuk melanjutkan perjalanan kami ke Vietnam.


3. Vietnam

Sebelum kami memasuki negara vietnam, kami harus melalui imigrasi laos di perbatasan laos-vietnam. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kami menempuh jalan darat dari Laos ke Vietnam dengan menggunakan mobil saudaranya Li Ko yang bernama La Tien. 

Di perjalanan saya melihat sekeliling seperti layaknya jalanan medan-padang sidempuan (pasid) di Indonesia. Hampir tak ada bedanya. Yang membedakannya hanya binatang yang berkeliaran di sekitaran jalan medan-pasid hanya ada anjing dan beberapa hewan ternak seperti ayam dan sesekali kucing yang tiba-tiba melintas di jalanan. Di jalan Laos-Vietnam tak jarang kami mendapati ada sapi bahkan babi peliharaan dan juga babi hutan melintasi jalanan yang kami lewati. Karena waktu tempuh Laos-Vietnam itu sekitar 8-10 jam, kami tiba di Vietnam malam hari karena sebelumnya kami berangkat dari laos pagi hari kala itu.




Sesampainya di Vietnam, kami disambut dengan hangat oleh seluruh keluarga dari saudaranya Li Ko. Tetapi ya begitulah, saya sempat merasa tidak nyaman tinggal dipermukiman tempat saudara Li Ko tersebut dikarenakan penduduk disana menjadikan babi sebagai hewan ternak yang dibiarkan bebas berkeliaran disekitaran rumah-rumah penduduk. Belum lagi anjing yang juga sangat banyak dan dengan bebas keluar masuk rumah bahkan sampai ke kamar. Sebagai muslim, hal ini tentu amat membuat saya tidak nyaman. Teman-teman saya yang dari Indonesia juga merasakan ketidaknyamanan ini. Mereka memilih untuk pergi dan menginap di hotel di tengah kota keesokan hari nya. Sedangkan saya tetap tinggal di sana bersama keluarga Li Ko di tempat La Tien selama 2 hari 2 malam. Kediaman La Tien berada di pinggir kota Da Nang. Da Nang merupakan wilayah pesisir di 

Hal yang membuat saya tetap tinggal di sana karena saya teringat akan salah satu ajaran di Islam untuk selalu bersyukur dengan nikmat dan bersabar dengan ujian/cobaan yang dialami. Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya : Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya. 
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2999 (64); Ahmad, VI/16; Ad-Darimi, II/318 dan Ibnu Hibban (no. 2885, at-Ta’lîqatul Hisân ‘alâ Shahîh Ibni Hibbân).

Setelah semalaman kami menginap di kediaman La Tien, keesokan paginya keluarga La Tien dan ibu nya Li Ko memasak makanan untuk dimakan pagi itu. Dikarenakan keluarga La Tien juga tidak beragama yang sama dengan saya, malam itu saat yang lain sudah tidur, saya dan Li Ko memutuskan untuk mencuci (sesuai dengan tatacara pencucian barang-barang yang sudah bersentuhan dengan najis/barang haram) seluruh perlengkapan dapur yang akan dipakai untuk memasak makanan kami sewaktu disana guna menghilangkan keharaman dari barang-barang tersebut. Saya sampaikan juga ke Li Ko untuk tetap menyediakan ikan dan jenis panganan dari laut, agar saya dapat makan dengan baik dan nyaman sewaktu disana, dan Li Ko merespon permintaan saya dengan baik saat itu. 

Setelah pagi itu, saya tidak lagi bersama dengan teman-teman saya yang dari Indonesia. Saya, Li Ko dan La Tien mengantarkan mereka ke hotel yang sudah mereka pesan di Ho Chi Min setelah kami selesai sarapan pagi itu. Siang harinya, Saya, Keluarga Li Ko dan seluruh keluarga La Tien berkeliling kota. Kami pergi kebeberapa tempat di kota. Saya sangat bersyukur karena saya menyediakan alat makan dan tumblr (tempat minum) saya dari Indonesia. Hal tersebut sangat berguna saat berpergian seperti ini. Tersedianya keran air putih siap minum yang menyebar di Vietnam memudahkan saya untuk selalu mengisi ulang tumblr saya itu. Tradisi orang-orang di Vietnam dan Laos hampir sama. Selain menjadikan kopi sebagai minuman wajib, mereka juga menjadikan bir (minuman beralkohol) sebagai air minum wajib. Banyaknya kedai-kedai minuman dan makanan di sepanjang pinggiran jalan disana yang menjajakan dan menyediakan bir sebagai minumannya. Jadi jangan heran kalau disana kalian akan sering mencium bau alkohol.

Tidak hanya mengelilingi kota Ho Chi Min, kami juga berkunjung ke salah satu istana terbesar dan tertua di Hue, Vietnam Tengah yaitu Hue Imperial Citadel.  Hue Imperial Citadel adalah sebuah istana yang dikelilingi benteng kokoh. Istana ini berada di tepi sungai Huong, luas totalnya 10 kilometer persegi, dan di dalamnya terdapat Forbidden City . Konon katanya Hue dulunya merupakan ibukota pertama Vietnam dan juga pernah menjadi pusat Kerajaan Nguyen dari abad ke-17 sampai 19 saat diperintah oleh Raja Nguyen Phuc Anh. Di dalam salah satu gedung di perkomplekan istana tersebut terdapat kursi emas yang merupakan tahta raja Nguyen.





Setelah selesai berkeliling kota, sore harinya kami tiba di pantai, saya lupa nama pantai tersebut. Lokasi pantai ini tidak begitu jauh dari kediaman La Tien. Warna airnya yang tidak begitu biru dan warna pasir pada pantai tersebut berwarna putih. Banyaknya anjing yang berkeliaran dan orang-orang yang berkunjung rata-rata meminum minuman beralkohol disana. Li Ko memesankan air kelapa muda yang masih asli di dalam kelapanya untuk saya. Dari banyaknya orang yang mendatangi pantai tersebut, hanya saya seorang yang memakai hijab sewaktu disana. Setelah waktu maghrib tiba, saya meminta pada Li Ko untuk kembali ke kediaman La Tien karena sudah menjelang malam. Dan di malam kedua tersebut kami menikmati teh dan kopi khas Vietnam di kediaman La Tien. 



Keesokan harinya tibalah hari dimana kami (Saya, Keluarga Li Ko dan La Tien) akan kembali ke Laos. Sama seperti sewaktu pergi ke Vietnam, kami pun meninggalkan Vietnam melalui jalan darat. Sebelum kami meninggalkan kediaman La Tien, keluarganya menyuguhi makanan buat kami. Tetapi pagi itu aku memutuskan untuk tidak ikut makan dengan mereka karena ada makanan yang mengandung babi cuy. Saya menunggu di luar kediaman La Tien sambil biking disekitar rumahnya. Perjalan pulang kami dari Vietnam ke Laos melewati jembatan naga di pusat kota Ho Chi Min. Tempat imigrasi Laos-Vietnam dengan Vietnam-Laos sangat berbeda penampakannya. Dibandingkan tempat imigrasi Laos-Vietnam, gerbang di imigrasi Vietnam-Laos jauh lebih modern dan bagus bangunannya. 



Sesampainya di Laos, kami tidak langsung ke kediaman Li Ko di Viantien tetapi ke pinggiran sungai Nam Theun ke kantor ayahnya Li Ko di NTPC Project disekitaran pinggiran sungai tersebut. Sekarang pun kabarnya Li Ko dan suaminya bekerja disana. Di perjalanan kami kesana, banyak tebing-tebing tinggi dan bukit-bukit hijau. Serupa dengan tebing-tebing di perjalanan kita kalau mau ke payakumbuh, Sumatera Barat di Indonesia. Segera setelah sampai kami langsung bergerak ke kediaman Li Ko di Viantien. Rencana sebelumnya, saya masih akan di Laos selama seminggu, tetapi karena ibu saya di Medan tiba-tiba masuk rumah sakit, saya bersegera pulang kembali ke Indonesia dan langsung ke Medan via bandara Kualanamo. Karena kebetulan perjalanan dari Laos ke Medan lebih mudah dari Udon Thani di Thailand kemudian transit ke Bandara di Don Mueng Thailand lalu lanjut ke Medan dari sana. Saya memutuskan untuk berangkat pulang melalui Bandara tersebut. 

Bandara Internasional Udon Thani (UTH) terletak di dekat kota Udon Thani di Provinsi Udon Thani di wilayah timur laut Thailand. Bandara Udon Thani terletak di dekat perbatasan utara dengan Laos dan sering digunakan sebagai titik transit ke Vientiane, Laos melalui Jembatan Persahabatan Nong Khai. Vientiane, ibukota Laos, dan berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan melintasi sungai Mekong. Malam itu saya ambil tiket penerbangan pulang ke Medan. Keesokan harinya kami ke kediaman saudara Li Ko yang lain di dekat kawasan tersebut. Menginap semlam disana lalu keesokan paginya lanjut berangkat ke bandara Udon thani. Perjalanan Trip Asia saya berakhir saat saya sampai di Bandara Udon Thani dan pulang ke Medan melalui bandara Don Mueng Thailand.

Dari perjalanan tersebut mengajarkan kepada saya tentang banyak pelajaran hidup. Bukan hanya tentang kearifan lokal di tiap negara yang saya singgahi tetapi juga bagaimana tradisi dan kebiasaan masyarakat di tiap negara tersebut. Cukup jelas bagi saya menandai negara-negara yang mana yang pernah disinggahi oleh pedagang muslim dan mana yang tidak. Ya, begitulah jejak travelling saya di beberapa negara Asia. 

Sampai jumpa di tulisan jejak travel saya berikutnya ya weiiiiii.....













  • Share:

You Might Also Like

60 Comments

  1. Merepotkan. Tapi sungguh indah persahabatannya. Li Ko amat sangat toleranSi dan bertanggung jawab karena sudah mengajak ke sana.
    Btw Lance, gimana shalat pas di rumah kerabatanya si Li Ko?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake kompas dan solat seadanya pakai jilbab sebagai sejadahnya kak. walau najis dimana-mana, daripada gak solat yakan. sah nggak nya biar allah yang nilai kak.

      Delete
  2. Asyik banget bisa jalan-jalan menjelajah banyak negara.
    Mudah-mudahan nanti saya juga bisa mengikuti jejaknya mbak.^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Aku juga mau ikutan jejak kaka keren ini

      Delete
    2. aamiin. saya doakan semoga segera terealisasi ya

      Delete
  3. Seru kali kak travellingnya. Semua dijelajahi bersama teman yang passionnya sama denga kita (jdi teringat tour kami). Menyenangkan sekaligus tantangan juga ya kak sebab mengunjungi negara yg bukan mayoritas islam. Dan diversity and tolerance nya keliatan sekali.. Ditunggu cerita selanjutnya ya kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ka alhamdulillah dikasih kesempatan sama Allah buat belajar banyak

      Delete
  4. Aaarghhh... postingan ini memang ngences-able. Bikin kebawa mimpi bisa jalan-jalan keluar negeri.

    Untuk penampilan ala hijabers gimana respon penduduk sekitar ya lance?

    ReplyDelete
    Replies
    1. diliatin dong kak e dari ats sampe bawah. secara awak aja yang cem gitu penampakannya. apalagi pas di pantai di vietnam itu. asli lah, cuma awak sendiri yang pake hijab.

      Delete
  5. Perjalanannya menarik sekali, Mbak Rosa. dari awalnya satu tujuan, ini bisa ke beberapa negara. Karena memang dilalui dan saling berdekatan ya. Apalagi bisa dilalui dengan kereta dan naik mobil.

    Kadang kepikiran sih, seandainya Indonesia juga bisa begitu. jadi ke negara tetangga, bisa ditempuh jalan darat, kan seru hehehe.

    Ditunggu cerita selanjutnya, Mbak Rosa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita doakan semoga di indo bisa bgtu ya mas. insyaallah mas laksanakan.sedang ditulis ini

      Delete
  6. Maa syaa Allah, seru kali ya traveling nya ke beberapa negara di Asia tenggara. Dan yang ku baru tau, ternyata dari Laos ke Vietnam Deket ya, dan bisa ditempuh pakai mobil hehe

    ReplyDelete
  7. senangnya bisa langsung 3 negara sekaligus jalan-jalannya, udah gitu punya temen WNA yang bisa diajak jadi guide pribadi, kak totalnya cost perjalanannya berapa nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena nginap sama transportnya banyakan yang gratis total sekitar 5jt doang mba

      Delete
  8. Perjalanannya seru ya mbak. Bisa langsung memjalani beberapa negara. Kira2 habis biaya berapa ya mbak?
    Siapa tahu ada rejeki bisa seperti mabk juga jalan2nya

    ReplyDelete
  9. Asiknya bisa keliling Asia tenggara, apalagi bareng teman2 deket, perjalanan wisatanya sangat seru banget untuk di ulas.

    ReplyDelete
  10. Ih seru banget sih, bisa jalan jalan di banyak negara Asia Tenggara. Aku juga pengen, memang PR banget kalau berpergian ke luar negeri atau daerah di Indonesia yang mayoritas non muslim. PR makanan harus diperhatikan sungguh2. Keren mbaknya bisa menjaga itu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa istiqomah lah kita-kita yang muslim ini utk yg satu itu.

      Delete
  11. Seru banget mbak travellingnya. Banyak banget insight baru baru yg didapat setelah melakukan perjalanan ini. Saya Serasa ikut jalan-jalan juga nih bacanya. Semoga suatu saat saya juga bisa menjejak disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin. semoga segera terealisasi harapannya ya mbak

      Delete
  12. Wah seru yac kak, mempunyai sahabat dari negara lain. Selain mengenal kultur kita bisa tahu karakteristik penduduk suatu negara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya alhmdulillah kak allah kasih kesempatan buat ngerasakannya

      Delete
  13. Wuih sampai disambut pakai dikalungin bunga yaaa. Orang Laos ternyata ramah2 ya terhadap pendatang? Seru juga jalannya mbak mulai Thailand hingga Laos dan Vietnam:D
    Btw kalau sama Si Liko-nya masih berhubungan baik sampai sekarang kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. seperti hal nya kita di Indonesia mas. mulai dari makanan sampai tradisi yang ramah terhadap tamu juga dimiliki oleh orang laos. masih alhamdulillah masih sangat berhubungan baik mas. sekarang kami sama-sama udah punya anak laki-laki. rencananya juga bakal holiday bareng mas. insyaAllah.

      Delete
  14. Pengalamannya luar biasa, ke-3 negara berturut2 ya, happy ya kalau jalan2 begini, suka banget deh lihat foto2nya, jadi ada gambaran karena diriku belum pernah ke Laos & Vietnam, heheeh

    ReplyDelete
  15. masyaAllah, asyik banget kak bisa punya banyak pengalaman traveling ke beberapa negara. Aku pengen banget bisa seperti ini, dengan negara pertama yang ingin di kunjungi itu Jerman, tepatnya di PRAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuahhhh praha negara kecil yang klasik dan nuansa nya gk kalah romantis dari paris itu kan ya. aku belom pernah ke eropa. insyaallah soon. aamiin

      Delete
  16. Duhh kereta apinya..
    Coba ada yg spt itu ya..
    Untuk sumatra gitu..
    Dari medan ke aceh atau ke sumbar, pasti asik..

    ReplyDelete
  17. Persahabatan bagai kepompong... (Bacanya sambil nyanyi ya, Kak Lance) hehe... Senang bacanya ceritanya, apalagi mengamalkan hadits Rasulullah SAW ttg syukur dan sabar. Tfs, Kaka

    ReplyDelete
  18. Saya baru pernah ke vietnam mb. .benar, di sana babi umum digunakan. Jadi demi amannya, kalau makan milih yang seafood. Saya terkesan dengan pasarnya mb... Lupa saya namanya apa... Beli lotus seed saya, enak... Hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pasarnya pasar tradisional tapi bersih dan rapi yakan kak.

      Delete
  19. Ke Thai bulan lalu, ke Laos belom, masih wishlist
    Senangnya bisa reunian sama teman kuliah yang asli sana ya mbak
    Kalau saya lebih memilih tinggal di kampungnya biar tahu budaya setempat. Pasti beda cerita kalau tinggal di hotel.
    Maklum sudah biasa membaur dengan non-Muslim selama kuliah di Bali

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang beda rasanya tinggal di permukiman asli dengan di hotel. keduanya ada lebih dan kurangnya sih sejauh ini yang aku lihat. hehhe

      Delete
  20. Eh ternyata lance alumni ITB toh mantul kali ah, btw abis ni cerita perjalanannya yg di jepang itu ya lance ah daku iri sekali sama dirimu udah melanglang buana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyaAllah tabarakallah kak ied. jgn iri kak e, semuanya punya masanya sendiri. tenang. allah itu maha adil.

      Delete
  21. Seru banget ini mba long tripnya. Maunya sih tiap tempat dipisah mba tulisannya. Jadi aku lebih berhayal membayangkan kalau liburannya asik kalau aku kesana.

    ReplyDelete
  22. Seru banget kak liburannya. Sekali mendayung tiga negara terlampaui ya. Senangnya punya teman disana, karena pasti lebih hemat karena bisa menumpang tidur. Tantangannya ya itu,, ketika beda agama, harus pelan2 kasi pemahaman tentang apa yang nggak boleh di agama kita dan toleransi tinggi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak alhamdulillah masih dikasih allah kesempatan itu.

      Delete
  23. Salfok sama anak ITB nya haha,
    Kak lance masuk tahun berapa?, aku punya temen juga disitu hehe

    Gak nyamannya ke Asia tenggara yg mayoritas non muslim ya bau bab*nya itu yaa, aku belum nyampe Bangkok baru Hatyai dan Phuket, milih makan di resto tomyam muslim malay-thay, tapi pas ke pasar, allahuu, pusing cium aroma makanan mereka, tapi kalau udah belanja baju tas ohhh ohhh mantap krina, harga murah kualitas oke hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun. hehehe. aku angkatan 2012 kakak. bener kali. bauknya hmmmmm ntahlah. payah bilang. haha. klo aksesoris sih laos dan thai gk berbeda kak. mirip. jadi awak selalu dpt gratis dari tmn awak itu. hehehe

      Delete
  24. Enak ya kakz berwarna masa mudanya berteman dengan orang yang berbeda-beda. Suku, agama, adat dan budaya. Kangen gak sih sama masa 2014nya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. masa yg saat ini cuma buat dikenang aja dek. sekarang lg sibuk menciptakan kenangan-kenangan manis yang baru.

      Delete
  25. wah, saya punya tuh buku Suma Oriental-nya Tom Pires :D

    asyik ya jenjalan ke Bangkok. suatu saat harus ke sana juga!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak. hee... semangat semoga segera terealisasi amin

      Delete
  26. Cerita jenjalan si lance seru, pesan toleransi n persahabatannya dapat dan ada lucu2nya...waktu baru datang dikalungi kalungan bunga kl di medan kayak bunga taik ayam..huhihi lance...

    ReplyDelete
  27. heehheehe...alhmdulillah klo pesannya nyampek kak e.kalo mengenai kalungan bunga itu beneran loh kak. ditolak gk sopan, diterima ya...hmmm gitu lah. agak2 lah dikondisikan idong itu.

    ReplyDelete
  28. Seru kali kak jalan-jalannya. bacanya sambil shalawat moga bisa ngetrip juga barenga suami dan anak-anak keliling dunia. wkwkwk.. mklum sekarang cuma bisa ngetrip kelliling sumatera

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuah insyaAllah disegerakan yang disemogakannya ya kak e.

      Delete
  29. Kakak alumni ITB toh.
    Alhamdulillah, Uda keliling beberapa negara.
    Kalau Indonesia Uda kemana aja kak? 🤭

    Semoga bisa berjalan dan berkunjung ke tempat yang baru.LN d DN. Bismillahirrahmanirrahim.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak alhamdulillah bisa ngerasain kesempatan yang subhanallah kali di kampus gajah. hehehe. kalo indo masih seputaran sumatera dan jawa kak. semoga next time bsa pergi bareng keluarga ke wilayah indonesia tengah dan timur ya kak. aamiin.

      Delete
  30. Seru banget traveling bareng temennya kak.... By the way, kenali dong sama Ko itu. Mana tau aku bisa dapat tumpangan gratis. #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh bang. nanti kalo dia jadi ke medan bawa anak sama suaminya, aku kenalin ya.

      Delete
  31. Mantap kali kak.. aku salfok banget sama toleransi antara kakak dan sahabatnya. Sampai mau nyuci peralatan masak dulu malem2. Gitu keluarganya pada nanyain ga sih kak?

    ReplyDelete